<link rel="stylesheet" id="wp-block-library-css" href="https://c0.wp.com/c/5.5.2/wp-includes/css/dist/block-library/style.min.css" type="text/css" media="all">
  • admin@balichandratour.com
  • Jl. Raya Pemogan Catur Warga 17X, Pemogan, Kec. Denpasar Sel., Kota Denpasar, Bali 80221

Wisata Budaya Bali Yang Tidak Di temukan di Daerah Lain

Wisata Budaya Bali Yang Tidak Di temukan di Daerah Lain

Mendengar nama Bali, yang terpikirkan oleh kita mungkin adalah pemandangan pantai yang indah dengan pasir putihnya, serta pemandangan matahari terbenam yang juga tak kalah indah. Padahal, Bali tak hanya sebatas pemandangan alam saja, namun juga budaya Bali yang kental masih dipegang oleh masyarakatnya.

Karena masih memegang budaya asli, maka tak heran kita bisa menyaksikan beberapa pertunjukan kebudayaan di beberapa desa. Tentunya, kebudayaan Bali ini hanya ada di Bali dan tak bisa ditemukan di daerah lainnya di Indonesia, sehingga sayang jika datang ke Bali namun hanya menikmati keindahan alamnya saja tanpa menyaksikan langsung kebudayaan Bali yang sudah dijaga sejak lama oleh masyarakatnya.

Lalu, wisata budaya apa saja yang bisa dinikmati oleh wisatawan yang datang dari luar Bali, baik itu wisatawan lokal atau pun mancanegara? Berikut ini pembahasannya.

  1. Upacara Ngaben

Upacara Ngaben mungkin sudah sering kita dengar, namun mungkin pula masih ada yang belum bisa melihatnya secara langsung. Ngaben sendiri merupakan prosesi pembakaran jenazah atau kremasi jenazah disertai dengan berbagai ritual keagamaan. Proses Ngaben ini memiliki proses yang panjang, dan durasi dari Ngaben ini tergantung dari kasta orang yang meninggal itu. Semakin tinggi kastanya, maka semakin lama dan panjang prosesinya.

Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa bagi umat Hindu, seseorang dengan kasta tinggi harus sesegera mungkin dilaksanakan upacara Ngaben. Hal ini berbeda dengan masyarakat dengan kasta biasa atau rendah, di mana jenazahnya masih harus dimakamkan terlebih dahulu sebelum prosesi Ngaben. Biaya yang dibutuhkan untuk prosesi Ngaben ini ternyata cukup besar, sehingga tak jarang masyarakat Bali mengadakan Ngaben massal, agar bisa menghemat biaya.

Sekadar info, warga Bali masih percaya dengan yang namanya reinkarnasi, atau kelahiran kembali. Karena itulah, saat prosesi Ngaben berlangsung, keluarga yang ditinggalkan tak diperbolehkan menangis. Mereka percaya bahwa yang meninggal itu sebenarnya tidak benar-benar pergi, melainkan akan terlahir kembali menjadi sanak saudara mereka.

  1. Makam Desa Trunyan

Mungkin kita menganggap bahwa seluruh warga Bali akan mengadakan upacara Ngaben untuk keluarga mereka yang sudah meninggal, namun kenyataannya tak semua warga Bali melakukan upcara tersebut. Salah satunya adalah warga Desa Trunyan di Kintamani. Mereka tak melakukan upacara Ngaben atau pun mengubur jenazah keluarga mereka yang sudah meninggal, melainkan jenazah digeletakkan begitu saja di sekeliling pohon Taru Menyan.

Budaya yang unik ini sudah berlangsung sejak lama. Namun, anehnya, kita tak akan mencium bau busuk seperti jenazah kebanyakan. Justru, kita akan mencium bau wangi, yang berasal dari pohon Taru Menyan tersebut. Pohon besar yang tumbuh di tengah Desa Trunyan itu diperkirakan berusia ribuan tahun, namun dikatakan pohon ini tak pernah mengalami perubahan sedikit pun. Masyarakat sekitar percaya, pohon ini dapat menyerap bau busuk dari jenazah yang diletakkan di bawahnya, dan menggantinya dengan aroma wangi dari pohonnya.

Keunikan lain dari budaya ini adalah warga desa Trunyan memiliki syarat dan ketentuan terkait pemakaman ini. Ketentuannya adalah jumlah jenazah di dekat pohon tersebut tidak boleh lebih dari 11 jenazah. Selain itu, jenazah yang boleh diletakkan di sini adalah mereka yang meninggal secara wajar dan sudah menikah.

  1. Kesurupan massal di Desa Kesiman

Budaya unik lainnya yang hanya ada di Bali adalah budaya atau tradisi yang disebut dengan Pengrebongan atau Ngerebong. Ngerebong merupakan ritual kesurupan massal, yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Bali, khususnya masyarakat di Desa Kesiman, Denpasar. Ngerebong sendiri merupakan bahasa Bali yang memiliki arti berkumpul. Pada saat tradisi Ngerebong diadakan, dipercaya jika para dewa sedang berkumpul.

Saat ritual ini berlangsung, biasanya akan terdapat beberapa orang yang kesurupan atau kerasukan. Orang-orang yang kesurupan tersebut akan menggeram, menangis, berteriak, atau menari-nari layaknya orang kesurupan. Selain melakukan hal-hal tersebut, orang-orang yang kesurupan juga akan melakukan tindakan yang ekstrem, yaitu menghujamkan keris pada bagian tubuh mereka, dan mereka juga tidak terluka. Masyarakat yang tidak kesurupan wajib mengamankan masyarakat yang lain yang tidak kesurupan agar mereka tak dilukai oleh orang yang kesurupan.

  1. Pawai Ogoh-ogoh

Pawai Ogoh-ogoh ini biasanya dilakukan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Ogoh-ogoh sendiri merupakan perwujudan enam musuh dalam diri manusia yang meliputi kama (nafsu, keinginan), krodha (kemarahan), moha (kebingungan), lobha (tamak), mada (mabuk), dan matsarya (dengki, iri hati). Saat memasuki Hari Raya Nyepi, warga Bali akan membakar ogoh-ogoh itu, agar keenam sifat buruk dalam manusia itu juga bisa ikut hilang, dan menjadi manusia yang jadi lebih baik dari sebelumnya.

Pawai Ogoh-ogoh ini bisa dilihat di berbagai lokasi di Denpasar. Beberapa di antaranya adalah di sekitar Patung Catur Muka Puputan, yang merupakan pusat dari alun-alun Kota Denpasar, monumen Ground Zero Kuta, atau kawasan Renon. Tentunya pawai ini akan menjadi tontonan menarik, karena budaya Pawai Ogoh-ogoh ini hanya ada di Bali dan tak bisa ditemukan di tempat lainnya.

  1. Upacara Omed-omedan

Jika Pawai Ogoh-ogoh dilakukan sebelum Hari Raya Nyepi, maka upacara yang disebut dengan Omed-omedan ini dilakukan setelah Hari Raya Nyepi. Secara gampang, upacara omed-omedan adalah tradisi ciuman secara massal yang dilakukan oleh pemuda dan pemudi Bali. Tentunya ini akan menjadi pertunjukan yang menarik bagi warga luar Bali, karena biasanya ciuman di depan umum masih merupakan hal yang tabu dilakukan orang Indonesia. Wisatawan bisa melihat upacara unik ini di Desa Sesetan, atau tepatnya di Banjar Kaja.

Lalu, bagaimana cara melakukan upacara ini? Pemuda dan pemudi itu secara bergiliran akan maju untuk berciuman, sambil ditarik serta didorong oleh warga lainnya, dan tetua atau kepala desa akan mengguyur mereka dengan air sampai basah kuyub. Ritual ini menurut kepercayaan masyarakat setempat dapat menghindarkan mereka dari wabah penyakit.

Mana dari kelima wisata budaya di atas yang pernah kalian lihat secara langsung?

Share Yuk !

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay

Open chat
Hallo, Ini Adalah Layanan Chat Online Bali Chandra Tour.

Ada Yang Bisa Kami Bantu ?
Powered by