<link rel="stylesheet" id="wp-block-library-css" href="https://c0.wp.com/c/5.5.2/wp-includes/css/dist/block-library/style.min.css" type="text/css" media="all">
  • admin@balichandratour.com
  • Jl. Raya Pemogan Catur Warga 17X, Pemogan, Kec. Denpasar Sel., Kota Denpasar, Bali 80221

Mengunjungi Wisata Tertua Di Bali

Mengunjungi Wisata Tertua Di Bali

Bagi wisatawan yang menyukai sejarah, mungkin beribur ke Bali adalah pilihan yang tepat. Alasannya adalah di Bali terdapat beberapa lokasi yang bisa dibilang tertua di Bali. Berkunjung ke sana, kita bisa belajar mengenai sejarah dari tempat itu, sehingga sambil berlibur, kita juga bisa menambah wawasan kita. Lalu, di mana saja kita bisa menemui sesuatu hal yang diklaim tertua di Bali itu? Simak pembahasannya berikut ini.

  1. Pura Lempuyang

Bali identik dengan pura yang tersebar di berbagai wilayahnya. Karena itulah, lokasi pertama yang bisa dikunjungi ini berkaitan dengan pura, yaitu Pura Lempuyang. Pura Lempuyang diklaim sebagai pura tertua di Bali. Selain menjadi pura tertua, ternyata Pura Lempuyang juga merupakan salah satu dari tiga pura terbesar di Bali. Dua pura besar lainnya adalah Pura Besakih dan Pura Ulun Danu Batur.

Pura Lempuyang memiliki tiga bagian, yaitu Lempuyang Sor, Lempuyang Madya, dan Lempuyang Luhur. Kawasan ini tak hanya menawarkan nuansa religius, tapi juga menawarkan panorama alam dan keindahan arsitekturnya yang sangat memukau. Tak heran, jika banyak pengunjung datang ke pura ini untuk menikmati keindahan alam dan juga arsitekturnya. Tak sedikit juga yang datang ke sini hanya untuk berfoto-foto untuk mempercantik akun Instagram mereka.

Rupanya, untuk bisa masuk ke pura ini ada pantangan yang harus dipatuhi oleh pengunjung. Pantangannya tidak sulit, yaitu pengunjung hanya tidak diperbolehkan untuk berkata buruk selama berada di kawasan Pura Lempuyang ini. Cukup mudah bukan?

  1. Desa Bulian

Berikutnya yang bisa dikunjungi adalah Desa Bulian. Jika Pura Lempuyang adalah pura tertua di Bali, maka Desa Bulian dikatakan sebagai desa tertua di Bali. Desa yang berada di Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng ini dikatakan sebagai awal mula berkembangnya Kerajaan Hindu pertama di Nusantara.

Desa Bulian memiliki 33 pura yang tersebar di setiap penjuru mata angin, dan pura-pura itu dikatakan sudah ada sejak lama, dan tak mengalami perubahan baik struktur maupun tata letaknya, meskipun sempat diperbaiki untuk menjaga agar tidak rusak total.

Lebih mengejutkan lagi, pada tahun 1990, Desa Bulian ini pernah diteliti oleh Balai Arkaelogi dan diperkirakan di desa ini pernah berkembang sebuah kerajaan Hindu di sekitar abad ke-3 M. Ini menunjukan bahwa kerajaan tersebut ternyata lebih dulu ada dibandingkan Kerajaan Kutai yang berkembang di sekitar abad ke-4 M. Namun kerajaan itu masih jadi misteri hingga sekarang.

  1. Desa Pegayaman

Dari Desa Bulian, kita beralih ke Desa Pegayaman. Desa Pegayaman ini diklaim sebagai desa muslim tertua di Bali. Desa ini terbilang unik, karena biasanya warga Bali beragama Hindu, namun hanya di desa inilah hampir semua warganya beragama Islam. Asal mula warga Desa Pagayaman ini dipercaya berasal dari para prajurit Jawa asal Sasak dan Bugis yang beragama Islam. Prajurit itu dibawa oleh Raja Buleleng pada zaman kerajaan Bali, dan akhirnya menghasilkan keturunan beragama Islam.

Di Desa Pegayaman, nama-nama dan aturan penamaan orang khas Bali, semisal Putu, Gede, atau Wayan, bisa berpadu dengan nama-nama islami. Sebagai contohnya, ada warga laki-laki yang bernama Nengah Surudin, ada ada juga warga perempuan yang bernama Ni Wayan Fatimah. Yang menarik, warga Pegayaman ternyata hanya menggunakan empat nama sesuai urutan, yaitu Wayan, Nengah, Nyoman, dan Ketut.

  1. Masjid Nurul Huda

Seperti disebutkan pada poin pertama, Bali identik dengan pura karena mayoritas warganya beragama Hindu, namun bukan berarti di Bali tak ada masjid, karena masih ada pemeluk agama Islam yang tinggal di Bali. Masjid tertua yang ada di Bali adalah Masjid Nurul Huda.

Masjid ini terletak di Desa Gelgel, Klungkung, dan menurut sejarahnya Masjid Nurul Huda ini sudah berdiri pada akhir abad ke-13. Sampai sekarang, masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi, sehingga jika dilihat dari luar, sekilas masjid ini seperti masjid baru dan tampak megah. Yang masih dipertahankan dari masjid ini adalah sebuah mimbar dari kayu berukir.

Mimbar ini adalah bukti satu-satunya dari pasukan Majapahit yang tiba di Gelgel Klungkung saat mengiringi Raja Gelgel. Sejarahnya, pada abad ke-13, Prabu Hayam Wuruk mengadakan konferensi kerajaan-kerajaan seluruh Nusantara. Raja Gelgel kemudian kembali ke Bali dengan dikawal 40 prajurit Kerajaan Majapahit. Setibanya di Klungkung, pengawal dari Kerajaan Majapahit yang sebagian sudah memeluk Islam kemudian menetap di Gelgel. Mereka lalu menyebarkan agama Islam tanpa paksaan atas seizin Raja Gelgel, serta membangun tempat ibadah untuk umat Islam. Tempat ibadah inilah yang kemudian dinamakan Masjid Nurul Huda.

  1. Bebek Timbungan

Poin terakhir ini sebenarnya bukan lokasi atau tempat, melainkan sebuah masakan. Ya, Bebek Timbungan dianggap sebagai kuliner khas Bali yang memiliki umur cukup tua. Timbungan sendiri berasal dari kata embung atau timbung yang memiliki arti bambu. Jadi, Bebek Timbungan adalah hidangan daging bebek yang dimasak dengan bumbu khas Bali menggunakan bilah bambu.

Hidangan ini ternyata tercatat di dalam naskah kuno Dharma Caruban, dan hidangan ini dulunya hanya dihidangkan pada ritual-ritual upacara adat Bali. Seiring perkembangan zaman, akhirnya hidangan ini bisa dinikmati oleh semua orang, karena bisa disantap setiap waktu, bukan hanya pada saat ada upacara adat saja.

Bagi yang penasaran dengan kuliner tertua di Bali ini, bisa langsung mengunjungi Restoran Bebek Timbungan Bali yang berada di Pertokoan Sunset One, Kuta, Badung.

Mana yang membuat kalian penasaran untuk mengunjungi hal tertua di Bali tersebut?

Share Yuk !

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Replay

Open chat
Hallo, Ini Adalah Layanan Chat Online Bali Chandra Tour.

Ada Yang Bisa Kami Bantu ?
Powered by